Situationship Tidak Jelas: Kenapa Kamu Bertahan?
“We accept the love we think we deserve.” — Stephen Chbosky
“Aku sih nggak pacaran… tapi ya dekat.”
Dia bilang begitu sambil tersenyum. Senyumnya manis, tapi matanya lelah.
Hampir setiap malam mereka teleponan. Saling kirim kabar. Saling cemburu. Saling perhatian. Tapi ketika ditanya, “Jadi kalian apa?” jawabannya selalu sama: belum ada status.
Kamu mungkin pernah dengar cerita seperti ini.
Atau… jangan-jangan kamu sedang menjalaninya?
Hubungan abu-abu memang tidak terlihat menyakitkan di awal. Justru terasa hangat, intens, dan penuh harapan. Tapi makin lama, ketidakjelasan itu berubah jadi beban mental. Kamu mulai overthinking. Mulai bertanya-tanya, “Aku ini sebenarnya siapa di hidupnya?”
Dan di fase usia 23–27 tahun, ketika kamu mulai serius memikirkan masa depan, karier, pernikahan, dan nilai-nilai hidup yang lebih matang, hubungan tanpa arah bisa terasa seperti menggantungkan hati di ruang hampa.
Tapi kenapa ya, tetap sulit dilepas?
Kenapa Ketidakpastian Bisa Terasa Candu
Perempuan itu cerita, “Aku tahu ini nggak jelas. Tapi kalau aku pergi, aku takut kehilangan dia.”
Yang membuat situationship terasa candu adalah harapan. Bukan cintanya, tapi kemungkinan.
Mungkin dia belum siap.
Mungkin dia cuma butuh waktu.
Mungkin nanti dia berubah.
Ketidakpastian memicu dopamin yang sama seperti saat kamu menunggu notifikasi dari dia. Psikologi menyebutnya intermittent reinforcement — ketika perhatian diberikan tidak konsisten, justru jadi lebih bikin ketagihan.
Kamu digantung, tapi tetap berharap.
Dan di usia dewasa awal, ketika kamu masih mencari jati diri, validasi dari seseorang bisa terasa sangat berarti. Apalagi kalau kamu sedang lelah, stres dengan pekerjaan, atau merasa hidup belum sepenuhnya stabil.
Hubungan ini jadi tempat pelarian dari rasa kosong. Bukan karena dia tepat, tapi karena dia ada.
3 Tanda Kamu Menggunakan Hubungan Ini untuk Menghindari Rasa Kosong
1. Kamu Lebih Takut Sendirian daripada Takut Disakiti
Kamu sering bilang, “Nggak apa-apa kok belum jelas.”
Tapi setiap kali dia menghilang beberapa jam saja, kamu langsung cemas.
Kalau kamu jujur ke diri sendiri, yang kamu takutkan bukan sakitnya. Tapi sunyinya.
Dan di sinilah banyak perempuan terjebak. Hubungan tanpa status terasa lebih aman daripada menghadapi kesepian sendirian. Padahal, hubungan yang tidak jelas justru perlahan menggerus self-worth kamu.
2. Kamu Menoleransi Hal yang Dulu Kamu Bilang Tidak Akan Pernah Kamu Toleransi
Dulu kamu bilang ingin hubungan yang halal, jelas arahnya, dan bertanggung jawab.
Sekarang? Kamu bilang, “Ya udah sih, yang penting dia baik.”
Di fase quarter life, standar sering kali goyah karena tekanan usia, lingkungan, atau rasa takut tertinggal. Kamu mulai kompromi dengan nilai yang dulu kamu pegang kuat.
Padahal dalam hubungan secara Islami, kejelasan adalah bentuk penjagaan, bukan pembatasan. Kejelasan melindungi hati, bukan mengekangnya.
3. Kamu Menganggap Intensitas Sebagai Bukti Keseriusan
Chat tiap hari. Telepon tiap malam. Update lokasi.
Semua terasa intim.
Tapi intimasi emosional tanpa komitmen justru bikin kamu semakin terikat tanpa perlindungan.
Banyak perempuan mengira kedekatan berarti arah. Padahal arah tidak ditentukan oleh seberapa sering kalian bicara, tapi seberapa jelas niatnya.
Psikologi “Digantung Tapi Berharap”
Kamu mungkin sadar ini tidak sehat. Tapi kenapa masih bertahan?
Karena manusia lebih takut kehilangan kemungkinan daripada kehilangan kepastian.
Kalau statusnya jelas “tidak”, kamu bisa pergi.
Tapi kalau masih “mungkin”, kamu bertahan.
Ini yang bikin overthinking tidak pernah selesai.
Kamu menganalisis chat. Mengartikan emoji. Mengingat nada suaranya.
Padahal yang kamu cari sebenarnya cuma satu: kepastian.
Dan semakin lama kamu bertahan dalam ketidakjelasan, semakin kamu mempertanyakan nilai dirimu sendiri.
Cara Berhenti Overthinking dalam Situationship
Perempuan itu akhirnya mulai berubah ketika dia berhenti bertanya, “Dia sayang nggak ya?”
Dan mulai bertanya, “Aku dihargai nggak ya?”
Kamu bisa mulai dari sini.
Overthinking tidak akan selesai dengan menebak-nebak pikiran dia.
Overthinking selesai ketika kamu memilih clarity.
Dan clarity bukan berarti memaksa dia berubah.
Clarity berarti kamu jujur tentang kebutuhanmu sendiri.
Latihan Clarity Question
Coba jawab ini dengan tenang:
Kalau hubungan ini tidak pernah berubah status, apakah kamu tetap mau bertahan 1 tahun lagi?
Apakah kamu merasa tenang atau justru sering cemas?
Apakah kamu bisa menceritakan hubungan ini dengan bangga kepada orang tuamu?
Apakah nilai hubungan ini sejalan dengan prinsip hidup dan imanmu?
Jangan jawab dengan harapan. Jawab dengan kenyataan.
Kadang healing bukan tentang melupakan seseorang. Tapi tentang mengakui bahwa kamu pantas mendapatkan yang lebih jelas.
Langkah Kecil Membangun Batasan Tanpa Drama
Kamu tidak perlu marah. Tidak perlu menghilang mendadak.
Mulai dengan komunikasi yang dewasa:
“Aku butuh kejelasan. Kalau kamu belum siap, aku memilih menjaga diri.”
Kalimat sederhana. Tegas. Tanpa menyalahkan.
Batasan bukan ancaman.
Batasan adalah bentuk self-respect.
Kalau dia memang serius, dia akan menghargai keberanianmu.
Kalau tidak? Kamu baru saja menyelamatkan dirimu dari luka yang lebih dalam.
Kapan Harus Memilih Kejelasan?
Saat kamu mulai kehilangan dirimu sendiri.
Saat kamu lebih sering menangis daripada merasa damai.
Saat hubungan ini membuatmu jauh dari nilai yang kamu yakini.
Di usia 23–27 tahun, kamu sedang bertumbuh. Mengenal hasrat, mengenal diri, mengenal luka, dan juga mengenal batas. Kamu bukan lagi remaja yang sekadar mencari perhatian. Kamu perempuan dewasa yang butuh arah.
Dan kejelasan adalah bentuk penghormatan.
Kamu Tidak Terlalu Banyak. Kamu Hanya Ingin Dihargai dengan Jelas.
Perempuan itu akhirnya memilih pergi. Bukan karena dia tidak cinta.
Tapi karena dia ingin cinta yang punya nama.
Kamu juga begitu.
Keinginanmu untuk dihargai bukan berlebihan.
Keinginanmu untuk hubungan yang halal dan jelas bukan kuno.
Itu sehat.
Kalau kamu sedang berada di fase bertumbuh, mempertanyakan relasi, self-worth, dan arah hidup, mungkin kamu akan relate dengan tulisan lain tentang perjalanan perempuan yang sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
👉 Lanjutkan refleksimu di sini:
Catatan Perempuan yang Sedang Bertumbuh
https://www.agungprasetiyo.com/2026/02/catatan-perempuan-yang-sedang-bertumbuh.html
Karena bertumbuh memang tidak selalu nyaman.
Tapi jauh lebih damai daripada terus menggantungkan hati di hubungan yang tidak pernah memilihmu dengan jelas.
Dan kalau kamu membaca ini sambil menarik napas panjang…
Mungkin ini saatnya kamu memilih dirimu sendiri.
